Hey Kawan, Gara-gara ga bisa nulis lagi di blog ini, blogku pindah jadi:
http://yorga.wordpress.com/
Tetap keep contact ama aku yach!
(Waduh, bahasanya…)
Hey Kawan, Gara-gara ga bisa nulis lagi di blog ini, blogku pindah jadi:
http://yorga.wordpress.com/
Tetap keep contact ama aku yach!
(Waduh, bahasanya…)
Salut untuk SBY yang menganugerahkan gelar pahlawan kepada tiga orang di atas bertepatan dengan Hari Pahlawan kemarin. Meski sebagian orang bilang ini hal yang terlambat, meski sebagian lain berkata kepahlawanan bukanlah gelar yang diberikan oleh pemerintah (saya setuju ko), saya rasa Indonesia harus tahu dan mengakui, dan satu-satunya cara untuk itu adalah dengan propaganda pers besar-besaran. Jadi tentu saja penganugerahan ini amat besar manfaatnya.
Dari ketiga nama itu, Bung Tomo mungkin memang yang paling dikenal. Teringat dibenak saya saat guru sejarah SMP 2 waktu itu dengan berapi-api menceritakan kiprah beliau dalam tragedi berdarah yang menewaskan lebih dari 16.000 orang di Surabaya. Masih ingatkah Anda? 100.000 pasukan sekutu pimpinan AWS Malaby dibuat kerepotan oleh Bung Tomo cs.
Bung Tomo, seorang orator ulung yang membakar semangat arek-arek Suroboyo, sungguh ironis dan tragis dilupakan oleh rezim orde baru karena dianggap tukang kritik dan terlalu radikal.
Pun Natsir, yang mayoritas orang hanya tahu akan kiprahnya sebaga perdana menteri yang gagal di zaman demokrasi liberal, walau begitu sangat dipuja-puja di kalangan aktivis dakwah.
Natsir, satu-satunya Indonesian yang masuk dalam biografi 71 tokoh islam abad 20 karya Abdullah Al-Aqeel. Meski pendapatnya mengenai dasar negara sering berbenturan dengan Soekarno, toh mereka tetap bahu membahu dalam memperjuangkan kedaulatan kembali NKRI pascakekalahan dalam KMB 1949.
Natsir dilabeli pemberontak setelah bergabung bersama Syafrudin (tahun lalu diberi gelar pahlawan juga oleh SBY) dalam PRRI yang sebenarnya lahir akibat penyimpangan-penyimpangan pemerintah pusat.
Natsir adalah sosok perdana menteri yang sederhana,
Saat pertama kali berjumpa dengannya di tahun 1948, pada waktu itu ia Menteri Penerangan RI, saya menjumpai sosok orang yang berpakaian paling camping (mended) di antara semua pejabat di Yogyakarta; itulah satu-satunya pakaian yang dimilikinya, dan beberapa minggu kemudian staf yang bekerja di kantornya berpatungan membelikannya sehelai baju yang lebih pantas, mereka katakan pada saya, bahwa pemimpin mereka itu akan kelihatan seperti ‘menteri betulan’
[George McT Kahin, Guru Besar Cornell University]
Sekarang, atau mungkin beberapa waktu mendatang, saya harap nama Natsir atau Bung Tomo dapat terekam dalam memori anak-anak pewaris negeri sebagaimana nama Diponegoro, Soedirman, atau Bung Karno.
Allohummaghfirlahum…
Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samudera yang kaya raya
Negeri kami subur Tuhan
Di Negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Terbusung dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk memebebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya
Terbusung dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi
Padamu kami berjanji
Buat saya sangat merinding
Silakan dengar atau download di sini
Yap,
Saya orangnya moody, terkadang jadi pengamat yang panjang lebar penuh pemaparan, terkadang hanya menyuarakan pendapat dalam kepala tanpa argumen yang jelas. Persoalan ini mengacu pada yang terakhir.
Poinnya, saya jemu dengan pro-kontra UU pornografi, saya bersimpatik dengan orang-orang yang sujud syukur saat UU pornografi disahkan (walau belum tentu tahu apa isi UUnya), saya setuju dengn argumen logis yang saya baca di sini, walupun saya sendiri mafhum dengan walk-outnya Fraksi PDI-P dan PDS pada pleno pengesahan UU itu (Dalam masyarakat prural yang terlampau “jahiliyah” kebebasan berekspresi dengan moral-etika adalah sisi mata uang yang berlainan)
Tapi saat sistem telah disepakati, saya sangat takut ini formalitas.
Ingatkah Anda dengan PERDA K3 nya Dada Rosada?
Saya bukan pesimis, hanya tidak menutup mata bahwa bakal ada indikasi ke arah sana.
Yang jelas, semua pihak seharusnya bahu-membahu mendukung aturan yang telah disepakati: suka atau tidak suka.
Bukannya menghabiskan energi. Protes padahal tau aturan takkan ditarik lagi, atau saat kemungkinan terburuk terjadi (UU menjadi sekadar formalitas) pihak kontra bilang: “Tukan, sudah saya bilang” atau pihak pro bilang: “setelah melihat kondisi lapangan memang sulit saat kita realisasikan” (Seperti kata Dada mengenai Perda K3nya).
Okey, Buang Miyabi atau American Pie mu, mari tegakkan yang HAQ!
Masa yang akan datang, kewajibanmulah.
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.
Sumpah Pemuda!!
Delapan puluh tahun berlalu sejak puluhan pemuda dari penjuru nusantara berikrar untuk negerinya. Mereka sadar, bahwa merekalah para pewaris negeri yang harus merebut tanah air dari tangan penjajah. Dan hari itu, pada tanggal 28 Oktober 1828, lagu Indonesia Raya menjadi saksi atas kebangkitan para pemudanya, dengan hasil 17 tahun kemudian Sang Negeri pun merdeka.
Andai saja mereka hidup sekarang, andai saja Soekarno atau Syahrir hidup sekarang, mungkin mereka bersedih. Pilu meratapi ranah pertiwi ini. Sakit hati mereka, melihat para generasi baru pewaris negeri, para calon pemegang estafet kepemimpinan negeri, sedang tertawa ria seolah tiada beban untuknya di hari esok. Sementara itu, di sekeliling mereka, negeri mereka sendiri diambang kepunahan.
Kepunahan?
Bisa jadi iya. Karena apa jadinya masa depan sebuah bangsa yang akan dipegang oleh orang-orang yang tidak peduli dengan naiknya harga-harga kebutuhan yang mencekik leher orang tua mereka sendiri? Seolah urusan dapur dan rumah tangga hanya milik ibu dan urusan nafkah hanya milik ayah. Apa yang akan terjadi dengan negeri ini 20 tahun lagi jika hingga saat ini calon pemegang kekuasaan negeri selanjutnya tenang-tenang saja saat budaya dan pulau sendiri dirampas oleh negara lain?
Apatis.
Tenang saja bung. Pakar-pakar politik dan ahli ekonomi kita kan sedang mengurusnya. Yang perlu dilakukan hanya menunggu. Percaya saja, Bapak-bapak kita kan hebat. Nanti juga masalah ini bakal tuntas.
Tapi tak selamanya Pak SBY menjadi presiden dan Ibu Sri Mulyani menjadi menteri keuangan. Dan pemegang tahta negeri selanjutnya adalah pemuda! Orang-orang yang kini sedang asyik ber-chating ria, sedang bingung besok mau nonton apa, dan sedang siap-siap ‘nembak’ kecengannya di sekolah. Urusan lain tidak peduli!
Sumpah pemuda!
Sebuah momentum bagimu, bagi kita, bagi para pemuda, untuk bangkit dari ketidakpedulian, bermetamosfosa menjadi pemuda yang sadar akan tugasnya, yang peka dengan keadaan sekitar, dan mau berfikir hendak ia bawa kemana bangsanya.
Karena spanduk bertuliskan “80 tahun Peringatan Sumpah Pemuda” di jalan-jalan hanya sekadar spanduk belaka. Karena Sumpah Pemuda bukan sekadar tuk diperingati dan dikenang. Tapi kewajiban kita adalah meneladani spirit dari perjuangan dan kebangkitan mereka, para pelaku Sumpah Pemuda.
Bangun Pemuda! Tong cicing wae atuh!
Teknik Kimia atau teknik Industri?
saya ragu, yang mana? memang pilihan sulit.
Sementara teknik industri memaksimalkan kompetensi manajerial saya, di sisi lain teknik kimia ditunjang oleh daya nalar saya?
Tapi tenang saja…
Dua-duanya sama-sama FTI!
Haha
Road to FTI ITB 2009!!
Yap, 4 November nanti akan diselenggarakan pemilu presiden di AS dimana calonnya adalah pemuda bernama Barrack Obama dari Partai Demokrat dan kakek tua bernama John McCain dari Partai Republik.
Banyak umat muslim yang mulanya berharap banyak terhadap Obama, (secara gitu) dia adalah keturunan Muslim Kenya, bernama tengah Hussain, dan pernah tinggal di Indonesia. Selain itu, Obama getol menyuarakan isu persamaan derajat dan HAM dalam kampanyenya.
Di samping itu, lawannya John McCain diklaim sebagai antek-antek Bush, musuh utama umat Islam di Timur Tengah. Kebijakan McCain nantinya dinilai tidak akan jauh berbeda dengan Bush.
Namun, sepertinya harapan itu tidak akan terejawantahkan. Di belakang Obama maupun McCain sama-sama bermain lobi Zionis Israel. Untuk membuktikannya, coba Anda ketik nama Obama di mesin pencari di situs http://eramuslim.com/, situs islam moderat yang bisa dijadikan rujukan valid oleh umat islam Indonesia.
Maka Anda akan menemukan belasan artikel mengenai keberpihakan Obama kepada Israel dan ke-antiIslam-annya, beberapa di antaranya yaitu:
Mungkin bagi umat muslim antara rezim Bush dan Obama bisa diibaratkan Keluar Lubang Serigala Masuk Lubang Buaya alias sama saja.
Namun, mari berpikir positif. Kemenangan Obama berarti kemenangan kaum muda, sehingga ini membuktikan bahwa seluruh dunia memang sedang menantikan pemimpin yang segar.
Sudah saatnya terjadi kaderisasi kepemimpinan, yang tua tidak boleh menuhankan pengalaman sama halnya dengan yang muda tidak boleh merasa rendah diri dihadapan orang tua.
Akhir-akhir ini media massa mengupas tuntas krisis ekonomi dunia yang cukup membuat panik segelintir kalangan yang berkepentingan. Namun, kita sebagai masyarakat awam sebenarnya ga ngerti betul akan latar belakang krisis ini dan dampaknya.
Maka dari itu, sebagai media massa 3Ipa9, di edisi kali ini Lazuardi hendak mengupas sedikit saja mengenai krisis ekonomi AS dan sengaja kami kaitkan dengan Kebangkitan Islam karena kami anggap kaitannya memang tak terkira sangat besar sekali.
Sesuai dengan hukum ekonomi kapitalis, telah menjadi sebuah keharusan bagi sebuah perusahaan untuk memperoleh keuntungan yang sebanyak-banyaknya.
Para pemilik perusahaan (yang punya saham) biasanya tidak mau tahu bagaimana perusahaan tersebut dijalankan, prinsip mereka yang penting harga saham naik dan laba perusahaan pun naik setiap tahunnya, tidak peduli bagaimanapun caranya.
Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk membuat berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.
Pemilik perusahaan diuntungkan, pelaksana perusahaan diuntungkan, politisi pun diuntungkan.
Nah, AS adalah negeri yang makmur akibat ekonomi kapitalisnya. Penduduk AS adalah masyarakat yang mapan dan mampu memenuhi kebutuhan hidup, bahkan cenderung boros dan doyan membeli apa saja yang sedang tren di pasar.
Salah satunya, yang selalu tren di pasaran, adalah jual-beli rumah. Awalnya pemerintah AS mematok pajak yang tinggi bagi Bumi dan Bangunan agar penduduk tidak memiliki rumah lebih dari satu.
Namun sejak tahun 80an, pemerintah AS yang mulai kong-kalikong dengan perusahaan-perusahaan swasta, menetapkan aturan baru yaitu penurunan pajak rumah dan kebebasan bagi pihak swasta untuk menentukan bunga bagi kredit rumah.
Akibatnya, penduduk AS pun makin doyan beli rumah, walau miskin, walau sudah punya banyak rumah, pokoknya beli lagi tak peduli meski ‘nyicil’. Dengan adanya fasilitas keringanan pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya..
Adalah perusahaan Investing Bank (seperti Lehman Brothers) yang memberi kredit yang ringan bagi pembeli rumah. Investing Bank ini sering ‘nakal’ dengan memberi penawaran kredit rumah kepada orang-orang bergaji pas-pasan.
Orang-orang ini biasanya berpikir pendek, yang penting mulai menyicil rumah mumpung murah, jika suatu saat tidak mampu bayar lagi, rumah akan disita. Perkara selesai.
Ternyata 10 tahun berlalu hal itu benar-benar terjadi. Banyak pembeli rumah yang tidak mampu lagi menyicil rumah sehingga rumah pun disita. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai penyitaan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman awal. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.
Investing bank pun merugi besar. Apalagi investing bank meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang dapat menghasilkan keuntungan.
Dengan demikian, bangkrutnya Lehman Brothers, sebuah peerusahaan Investing Bank, otomatis membuat perusahaan lain yang berhubungan dengannya bangkrut pula, dan begitulah seterusnya sehingga hal ini mengakibatkan krisis global.
Negara-negara berkembang yang menjadi tempat beroperasinya Investing Bank tersebut otomatis ikut mengalami krisis, tidak terkecuali Indonesia.
Ciri Kebangkitan Islamkah?
Pemerintah dan para pemilik modal di Indonesia cukup khawatir krisis ini menyamai krisis tahun 1998. Rakat kalangan bawah pun terkena dampak inflasi naiknya harga-harga dan PHK besar-besaran dari pabrik-pabrik karena pabrik-pabrik menghentikan ekspormya.
Usut punya usut, ada sebuah kesamaan dalam dua krisis ini, di tengah keterpurukannya bank-bank kapitalis dan Bursa Efek Indonesia, ternyata ada satu bank yang mampu bertahan tidak sedikitpun terpengaruh krisis ini.
Bank Syari’ah!
Sebuah bank berasas Islam yang tidak bergantung pada hegemoni Negara super state, melainkan bekerja di wilayah lokal dan benar-benar menggarap sektor riil bagi masyarakat.
Ini sebuah pertanda kecil dari sekian banyak pertanda, bahwa Neoliberalisme dan Kapitalisme AS tidak akan selamanya menguasai dunia. Akan tiba saatnya dimana Islam BANGKIT memegang kendali atas dunia.
Pertanyaannya, ada dimana kita saat itu, menjadi penonton atau kontributor kebangkitannya?
Saya pilih yang terakhir, makanya saya senantiasa berusaha menerapkan aturan islam dalam hidup saya, bukan sekadar ibadah solat dan puasa saja, melainkan memulai menerapkan nilai-nilai tersebut dalam seluruh hidup saya. Seperti nilai kejujuran, sikap dan akhlak, pergaulan, dan sebagainya. Saya tahu itu sulit, saya pun masih belajar, namun kita semua mau tak mau mesti memulainya.
Tapi sekali lagi, itu pilihan..
Kidung pagi datang lagi,
Ialah energi terbesar hariku
Ialah pusarankehidupanku
Maka kuawali pagi ini dengan sebuah TEKAD
TEKAD kuat, yang teriaknya menggaung dalam dada
TEKAD bahwa hari inii ku kan menorehkan sesuatu pada dunia
Yakin bahwa hari ini adalah pengejewantahan mimpiku kemarin
Bismillah,
Ku niatkan dengan hati jernih
Ku buka mataku, terbangun, dan tersenyum
Saksikanlah dunia! Ku kan menaklukanmu hari ini!
Hari ini hari minggu, baca buku sejarah sampe suntuk, lalu ada si papa,
Kebeneran lagi baca tentang PKI,
Berceritalah ci papa,
Ternyata kakeku dulu orang hebat, memang beliau bukan tentara, tapi beliau punya musuh di kantornya anggota PKI, ampe-ampe si kake sering di terrorr dan debat sama si PKI ituh.
Lalu si papa cerita lagi, bahwa dulu kakanya si kake adalah mantan Tentara Islam Indonesia. DI/TII itu dijukuki gerombolan oleh orang kampung, kakanya kakekku itu sobat dekatnya Kartosuwiryo dan dikenal sakti. Tapi akhirnya ditangkap.
Kakeku pun sudah keliling Indonesia mengunjungi kakanya yang pindah-pindah dari penjara ke penjara.
Kakanya minta kakeku mencari anaknya yang hilang, dan (lagi) si kake keliling Indonesia dari kota ke kota, mencari anak kakanya.
Kakeku sudah tiada, andai saja ia di sini, ku kan minta kisah sebelum tidur setiap harinya.
Cukup enek saat menonton debat partai di TV One hari ini, antara Partai Bulan Bintang dan Partai Damai Sejahtera (lagi-lagi) mengenai penerapan syari’at Islam di negeri ini.
Bosan saya. Debat kusir yang terjadi tidak akan mengubah persepsi siapa-siapa. Mengenai kemajemukanlah, toleransi lah, Pancasila lah, semuanya tidak dapat menjadi satu konklusi mufakat.
Yang ingin saya sampaikan di sini adalah, seperti kata Anis Matta dalam Dari Gerakan ke Negara, bahwa yang mesti dihadapi oleh partai-partai islam adalah tantangan-tantangan praktis, bukan verbal!
Tidak akan ada habisnya jika kita membela habis-habisan hukum Qishos (darah dibayar darah) membuat orang jera, hukum jual-beli non-ribawi menguntungkan semua pihak, teori kesejahteraan rakyat lewat zakat sangat ideal, karena pihak-pihak kontra pastinya akan punya argumen yang tiada habisnya juga.
Menarik saat saluran saya pindahkan ke Metro TV, di sana ada dialog dengan A. Riawan Amin, Dirut Bank Muamalah Indonesia. Ia memaparkan mengenai krisis keuangan sebagai dampak dari krisis di US dan tidak perlu mengatakan secara tersurat bahwa Bank Muamalah menjawab tantangan tersebut.
Karena apa? Melalui pemaparannya yang sederhana ia hanya menyampaikan secara jujur, bahwa bank-bank yang merupakan perpanjangan tangan dari bank asing otomatis akan mengalami krisis, dan bank Muamalah tidak.
Makanya, katanya, sudah saatnya pemain-pemain saham meninggalkan usaha lama dan bergabung ke sistem baru.
Ini adalah jawaban yang disusun berdasarkan fakta yang kontekstual. Bukan mencari ilustrasi dari zaman Rosululloh yang saya yakin tidak akan diterima oleh masyarakat plural.
Begitu pula kata menthorku, saat krisis 1998 terjadi, semua bank mengalami kesulitan pengembalian uang ke nasabah. Adalah BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) bagi para pemilik bank swasta di Indonesia. Dan fakta menunjukkan, hanya ada satu Bank yang tidak memerlukan bantuan tersebut: Bank Mu’amalah.
So, the point is, tantangan bangsa ini cukup kita jawab dengan sebuah cara islami yang praktis, bukan teori, sehingga dengan sendirinya orang akan menyadari bahwa islam adalah rohmatan lil ‘alamin.
Oya,
Islam bukan agama, ia adalah sistem hidup yang mengatur baik hubungan vertikal maupun horizontal.
Haha, ingatkah dengan kata-kata tersebut? Ikal menggagas agar dunia pendidikan Indonesia menjadikannya salah satu mata pelajaran di sekolah.
Tapi ini bukan tulisan mengenai pemaparan panjang judul di atas. Saya hanya tertarik dengan kehebatan Andrea Hirata membalut nilai-nilai filosofis yang ingin disampaikannya oleh komedi renyah sehingga terkesan menjadi sebuah ironi.
Perbedaan kontras yang tampak antara mahasiswa-mahasiswa asal Belitong yang kuliah di Jawa dengan Capo, pedagang etnis Tiong Hoa di kampungnya Ikal.
Mahasiswa-mahasiswa intelek itu sibuk memberikan penyuluhan kepada kuli-kuli Belitong dengan bahasa sok intelek.
“Bapak-bapak, kita harus belajar mengomersialkan intelectual comodity! Artinya kita harus bersaing dengan daerah lain dengan mulai menjual keahlian dan berbagai jasa. Kapasitas intelektual kita harus kita tingkatkan secara signifikan. Kita tidak boleh hanya bergantung pada laut, tambang, dan tani yang resourcesnya terbatas. Dengan begitu pembangunan desa ini dapat berkembang secara simultan dan sustainabel di semua bidang!”
Tepuk tangan riuh sekali. Setelah pidato yang gilang-gemilang itu lalu tak ada seorangpun yang melakukan apa pun. Sang mahasiswa sibuk mencari kata-kata aneh baru untuk pidato berikutnya dan para kuli tambang menghabiskan waktu berminggu-minggu mendebatkan arti setiap kata aneh itu di warung-warung kopi.
Berbeda dengan Capo, tak seperti mahasiswa Melayu yang sok pintar, ia berbicara dengan pilihan kata sederhana, gampang dicerna, tajam dan memukul sasaran. Setiap ia angkat bicara para pedagang ikan di stanplat melepaskan apapun yang sedang ia kerjakan.
“Orang Kek bekerja keras, tak mau bergantung pada apapun…”
“Tidakkah kalian lihat Belitong? Terserak seribu danau bekas galian tambang, terhampar padang sabana beribu-ribu hektare, tak bertuan. Kuda, peternakan kuda adalah yang paling pas. Hewan itu memerlukan kebebasan ditempat yang luas. Aku akan beternak kuda!!”
Dan Capo memang beternak kuda.
Haha, sekarang pikirkan, apakah saya dan Anda termasuk seperti mahasiswa-mahasiswa Melayu melayu yang banyak cingcong, banyak berargumen dengan bahasa elite, memaparkan sejuata ide namun tak merealisasikannya dalam sebuah tindakan?
Saya khawatir, iya.
Tak dapat dipungkiri bahwa penyakit “Tidak bisa membagi waktu” memang sebuah penyakit klasik bagi seorang aktivis kesiswaan. Entah itu hanya sebuah dalih bagi kemalasannya atau memang kepadatan aktivitasnya.
Dampaknya cukup terasa bagi kegiatan belajar mengajar di kelas khususnya. Tidak fokus belajar di kelas dan tidak sempat belajar di rumah, berimbas kepada menurunnya nilai dan prestasi dan berefek domino kepada marahnya orangtua sampai-sampai melarang anaknya aktif lagi berorganisasi.
Manajemen Waktu
Untuk konsep manajemen waktu secara teoritis saya menyarankan untuk membaca buku Seven Habits-nya Sean Covey. Pada kebiasaan nomor 3, Dahulukan yang Utama, Sean memaparkan mengenai 4 tipe orang yang diklasifikasikan dalam 4 kuadran waktu: Orang yang Pemalas, Orang yang Suka Menunda-nunda, Orang yang “Yes Man”, dan Orang yang Menentukan Prioritas. Saya yakin aktifis kesiswaan sudah pernah mendapat materi ini, hanya menurut saya buku Seven Habits tetap mesti jadi pegangan.
Saya hanya ingin menceritakan sebuah pengalaman. Setiap sore sehabis kegiatan harian OSIS, kami, pengurus OSIS, sering berkongkow-ria di kantin atau di ruang OSIS. Bagus memang. Metode kumpul-kumpul, ngobrol apa saja yang penting kumpul, merupakan metode yang amat ampuh untuk meningkatkan ukhuwah(kebersamaan) dalam organisasi.
Namun yang disayangkan, waktu banyak yang ‘terbuang’ tersebut sering disembunyikan dalam argumen saat berhadapan dengan orang tua saat kita pulang larut malam. Dalih yang keluar tentu saja aktivitas kesiswaan. Akibatnya, hilanglah kepercayaan orang tua: “Rapat mulu, Ekskul mulu, kapan belajarnya?”.
Saran sederhana saya, Jangan Mengambinghitamkan kegiatan kesiswaan! Dan lagi, jika kumpul-kumpul bersama anak-anak seprofesi dirasa sudah melebihi batas, jangan ragu meninggalkannya.
Segalanya berawal dari pemikiran. Saat saya sedang meghabiskan waktu di suatu tempat, saya selalu berpikir apakah waktu yang saya habiskan saat itu, di tempat itu, berharga buat saya. Apakah yang sedang saya lakukan relevan dengan prinsip atau tujuan hidup saya. Apa kegiatan lain yang lebih berharga yang dapat saya lakukan jika saya meninggalkan tempat itu. Jika yang saya lakukan adalah sebuah kegiatan refreshing (denger musik, nonton, atau main bola), saya tetapkan berapa waktu yang tepat yang harus saya habiskan agar tujuan refreshing tersebut tercapai.
Sederhana kan? Ingat saja bahwa waktu ibarat pedang, yang siap menebas kita saat kita sembarangan menggunakannnya. Dan Albus Dumbledore mengatakan, kita akan merasa sesuatu amat berharga saat ia sudah tidak lagi kita miliki. Mungkin suatu saat kita amat menyesal dengan membuang waktu kita yang berharga.
Manajemen Konsentrasi
Kalau Anda merasa manajemen waktu Anda sudah baik namun tetap sering merasa kelelahan berlebihan atau Anda bisa meluangkan waktu untuk belajar di rumah namun tidak berpengaruh terhadap pemahaman diri, berarti Anda bermasalah dengan manajemen konsentrasi.
Pun saya. Bermula saat pertemuan dengan seorang alumni yang menceritakan pengalaman organisasinya, saya belajar mengenai ini.
Ilustrasi:
Anda adalah seorang ketua panitia sebuah even yang akan dilaksanakan sepulang sekolah. Paginya di dalam kelas yang Anda pikirkan hanya even itu, belajar pun tidak dapat feel nya. Sehabis even, di rumah Anda mencoba mengerjakan pekerjaan rumah, namun Anda masih memikirkan even tadi yang dibilang gagal, hingga akhirnya pr tidak terselesaikan. Besok paginya, saat pelajaran pertama Anda sibuk memikirkan ulangan pada jam terakhir. Begitulah seterusnya.
Manajemen Konsentrasi adalah tahapan lanjutan, khususnya bagi orang-orang yang merasa kelelahan karena mempunyai waktu sedikit dan kegiatan padat.
Permasalahannya, saat kita sedang mengerjakan sesuatu kita sukar mengalihkan pikiran kita dari pekerjaan berikutnya yang dirasa lebih penting. Itulah yang membuat kita lelah. Pikiran kita dipacu untuk bekerja lebih, sehingga membagi dua fokus kita. Yang sedang kita lakukan berbeda dengan yang sedang kita pikirkan.
Kelelahan pikiran jauh lebih menguras tenaga dibandingkan kelelahan fisik.
Makna ayat 7 suroh Al-Insyiroh bukan hanya mengenai manajemen waktu: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan suatu urusan, kerjakanlah urusan lainnya”, tapi juga mengenai manajemen konsentrasi. Tuhan seolah berujar agar kita fokus pada suatu urusan hingga urusan itu selesai. Walaupun nanti siang akan ada even dimana kita ketuanya, tetaplah fokus pada ulangan matematika saat ini.
Inilah trik seorang aktivis kesiswaan yang berotak cemerlang. Dirinya berkonsentrasi penuh dalam 45 menit pelajaran fisika dan berkonsentrasi penuh terhadap rapat yang sedang dipimpinnya.
Waktu yang dihabiskan dua orang yang berbeda bisa saja sama, namun apa yang didapatkan pasti berbeda. Dengan kekuatan konsentrasinya seseorang bisa memahami materi integral dalam waktu 1 bulan, tapi boleh jadi seseorang lainnya hanya membutuhkan waktu 1 jam.
Itulah kekuatan manajemen konsentrasi.
Mulailah fokus terhadap satu hal yang sedang kita geluti pada satu waktu. Singkirkan pikiran terhadap masalah lainnya yang hanya akan menguras tenaga dan mengalihkan perhatian kita.
Saya tidak punya trik jitunya, Cuma sebuah simulasi konsentrasi yang bisa saja membantu Anda atau tidak.
Tatap tegaklah masa depan
Tersenyumlah tuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa
Bersama membangun Indonesia
Pegang teguhlah kebenaran
Buang jauh nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga
Untuk tegaknya keadilan
Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang
Selama matahari bersinar
Selama kita terus berjuang
Selama kita satu berpadu
Jayalah negeriku jayalah!
Coba deh, denger lagunya, musiknya emang seperti senam pagi sih, cuma coba renungi beberapa waktu, saya sendiri cukup tergetar.
Hehe
Kaisar Muda Alexander kewalahan, saat pasukan Napoleon membombardir pasukan mereka di ranah sendiri. Ia gentar, pasukan Napoleon yang dikenal buas di seantero Eropa, tidak lama lagi akan menduduki Moskow. Walau begitu ia tak tahu, di pihak Perancis sendiri, pasukan Napoleon sudah bosan berperang. Mereka menantikan kedamaian yang tak kunjung muncul akibat tangan otoriter kaisar mereka, sang penguasa Eropa: Napoleon Bonaparte.
Dengan enggan, Alexander muda menyerahkan tampuk kepemimpinan pasukan kepada Kutusov, jenderal kolot Rusia, musuh bebuyutan Napoleon. Dari lubuk hatinya Alexander yang arogan memang tak suka dengan Kutusov. Tapi itu langkah yang tepat. Pasukan Rusia amat mencintai dan mengelu-elukannya.
Kutusov itu eksentrik. Seolah becermin pada strategi Sun Tzu, ia mengosongkan Moskow, pusat kehidupan Rusia, dan malah membiarkan Napoleon memasukinya. Menangislah Rusia, mereka mesti rela Moskow ‘dibuang’ oleh Kutusov.
Tapi ternyata itu adalah awal mimpi buruk bagi pasukan Napoleon. Ternyata pula Kutusov telah berencana dengan matang. Ini bukan taktik Sun Tzu, melainkan taktik Kutusov.
Moskow benar-benar kosong, tak ada makanan, tak ada kehidupan, hanya ada pelacur dan gelandangan berpenyakitan. Napoleon terjebak di kota asing, terkepung dalam sejarah. Saat malam tiba mereka dikagetkan dengan serangan gerilya dan mendadak. Moskow terbakar! Kini Moskow menjadi lautan api!
Kematian membayangi pasukan Napoleon. Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. Di tengah bencana penyakit dan kelaparan akibat kekurangan persediaan makanan, musim dingin Rusia datang mengancam, musim dingin bumi Utara yang dikenal amat ganas.
Pagi itu, 19 Oktober 1812, mereka mundur dari Moskow. Namun itu bukan akhir mimpi buruk. Mereka terlambat. Salju telah turun dan memporak-porandakan pasukan Napoleon. Banyak yang berjatuhan dalam perjalanan. 25 derajat di bawah nol! Kejayaan yang diperoleh pasukan Napoleon di seantero Eropa, ternyata harus takluk oleh kekejaman daratan Rusia.
Hebatnya, ini semua pun sudah diperhitungkan Kutusov. Belum sempat Napoleon menarik nafas lega ditinggal salju yang tak lagi turun, giliran pasukan Kutusov membombardir pasukannya, memanfaatkan kondisi pasukan Napoleon yang semakin memburuk. Serangan bertubi-tubi.
Naasnya pasukan Napoleon. Dari jumlah pasukan yang awalnya 400 ribu orang, kini berkurang menjadi kurang dari 60 ribu orang. Inilah titik balik kedigdayaan Perancis. Tahun 1812 Napoleon kalah.
Ehm,
Bandung, I’m comming (dengan melebarkan kedua tangan seperti gaya Rose dalam film titanic: “I’m the King of the world!”)
Akhirnya kembali lagi, setelah satu minggu saya meninggalkan idealisme-idealisme di rumah, atau, tertinggal tepatnya.
Yep,
Kembali kepada keluarga. mudik. bertemu sepupu-sepupu kecil dan paman-bibi yang mengenal karakter saya sejak kecil ternyata dapat sedikit-banyak memengaruhi saya
Saya tidak lagi menjadi pemikir. Bahkan kedewasaan saya mungkin hilang saat bersama mereka.
Makanya, saya mengistilahkannya “meninggalkan idealisme”
Persis seperti yang seorang kakak alumni SMA 3 -kang Iwa- katakan, kondisi kita amat berbeda saat di sekolah dengan di rumah. Di rumah terkadang ide-ide brilian dan sifat idealis kita tenggelam oleh lingkungan yang membuat diri kita seolah “selalu kecil”.
Comfortable zone.
Nah, apalagi ini di keluarga besar, istilahnya mah jadi “kabawa” suasana.
Haha
5 hari lamanya saya berada di kampung babeh. Yang jelas sifat melankolis saya menganggap 5 hari itu sangat tidak produktif bagi kehidupan saya. Saya bingung dengan kegiatan orang desa mengisi waktu luang: tidak ada kegiatan!
Namun sifat sanguinis saya selalu mengambil hikmah dalam setiap hal.
Namun ada satu kegiatan yang menarik pada malam setelah lebaran: Maen Bedil Lodong!
Haha
Anda tau? Ya, lodong adalah bentuk petasan versi orang desa. Lebih kreatif sih memang. Natural.
Ini contohnya kehilangan idealisme. Di bulan Romadhon secara frontal saya bilang anti dengan petasan dan sejenisnya, sama saja membakar uang, kata saya waktu itu.
Makanya dalam setiap even buka bareng yang diakhiri oleh main petasan saya sering meninggalkannya.
Back to lodong, jadi serunya, bedil lodong berbunyi layaknya meriam saat kita bakar ’sumbunya’.
‘Buuummm!’. Main bedil lodong ini menjadi tradisi di desa-desa priangan saat lebaran.
Malam itu sawah kering itu amat ramai. RT 05 di sudut atas sawah melawan RT 02 di bawah, dengan dibatasi oleh dataran sawah kering yang luas membentang.
Lodong telah berjejer di kedua kubu. Oya, kalau Anda belum tau, lodong itu bahasa sunda, artinya batang pohon tebu.
Selain lodong, ada juga yang menggunakan cubluk. Cubluk terbuat dari tanah kerukan yang tengahnya bolong.
Kemudian dari kedua kubu bersahut-sahutan suara meriam. Tidak ada wasit. Hanya ada gengsi, siapa yang bunyi lodongnya lebih keras, dirinya sendiri memutuskan bahwa dia menang.
Semalam suntuk bunyi lodong menggaung ke penjuru desa, orang-orang begadang terbawa riuhnya suasana.
Jadi cubluk atau lodong bentuknya sama sama seperti pipa besar, dengan lubang besar di belakangnya dan lubang kecil di atasnya. Mekanismenya:
Yah, begitulah. Dan untuk membiayai pembelian 1 kuintal karbit dan makan malam, setiap keluarga di RT 05 rela menyumbang seratus ribu!
Ckckck.
Dasar orang desa.
“Hiduplah untuk memberi sebanyak banyaknya, dan bukan hidup untuk menerima sebanyak-banyaknya”
(Pak Harfan)
Saya baru nonton film Laskar Pelangi kemarin. Film ini kembali jadi tetesan embun dalam dahaga dunia perfilman Indonesia.
Dahaga secara substantif, nilai, esensi.
Coba hitung, berapa persentase film cinta, film horor, dan film mendidik di studio21 ?
Ya sudah, pokonya tonton deh, maju terus dunia persilatan Indonesia, eh, perfilman!
Aku bertanya,
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang ibu kota, sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang,
belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra, atau apa saja,
ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata,
Di sini aku merasa asing dan sepi
W. S. Rendra
Memang sebuah pengalaman spiritual tidak akan pernah terlupakan. Sabtu lalu saya bermalam di masjid habiburahman bersama Aldi, Jojo, dan Ghifari. Iktikaf di sana menjadi kegiatan rutin yang mulai kami lakukan setaun yang lalu.
Ya, genap setaun yang lalu sejak saya terkagum-kagum di masjid tersebut, dengan ribuan muslim sejati yang keasyikan mengejar derajat taqwa tertinggi. Indahnya, saat melihat dalam larutnya malam seorang pria bermotor tiba diboncengi istrinya bersama seorang anak kecil yang sengaja ia ajak untuk mulai mengenal Tuhan. Tampak kedinginan mereka, namun tak menyurutkan semangat mereka dalam beriktikaf. Indahnya saat ribuan orang ini bersantap shaur bersama menjelang tiba waktu shubuh, dengan penjual makan shaur aneka pilihan yang tersedia. Indah suasananya, saat sebagian orang tertidur, sebagian lain asyik tilawah berjuz-juz. Indahnya melihat anak-anak kecil yang terbiasa solat dengan tumaninah karena didikan orang tua mereka.
Subhanalloh,
Dan saat solat malam hendak dimulai, semua saling membangunkan tak peduli kenal atau tidak, yang jelas semuanya menyadari bahwa ikatan muslim secara tidak langsung telah mempersaudarakan mereka.
Diimami Al-Ustadz Abdul Aziz Al-Hafidz, sebagian jamaah larut dalam kekhusyuan qiyamul lail 3 juz dalam 12 rokaat,
Namun sebagian lain mungkin didera kantuk yang amat sangat, namun tetap menjalankannya, mencoba tuk belajar khusyuk.
Pun saya. Paksakan terus walau pikiran buyar atau bahkan tidur sambil berdiri. Hehe.
Hingga akhirnya terjaga dan terbawa larut dalam keheningan suasana ayat-ayat terakhir Al-Baqoroh. Entah kenapa suara ustadz Al-hafidz terasa begitu menggetarkan hati. Memang indah bila kita menghadapi ayat yang kita menggerti maknanya.
“…Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
Terhanyut. Bergetar. Takut dan berharap. Keheningan menjalar walau dalam padanya tangisan manusia bersahutan.
“…Ya Tuhan kami, jangan kau hukum kami jika kami lupa…”
Meleleh membasahi pipi. Dekat, amat dekat. Menjangkau zona bawah sadar.
“…Jangan Kau pikulkan kepadak ami apa yang tak sanggup kami memikulnya…”
Inikah rasa itu? Inikah iman? Atau hanya tersapu gelombang tangisan manusia sekitar?
“Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami…”
Semoga iman selalu masuk ke dalam diri kita hingga membuka hati kita dan menyahaya. Aamiin.
NB. Saya kembali membaca terjemahaannya di rumah sepulang dari sana. Tapi saya tidak merasakan getaran apa-apa.