Memang sebuah pengalaman spiritual tidak akan pernah terlupakan. Sabtu lalu saya bermalam di masjid habiburahman bersama Aldi, Jojo, dan Ghifari. Iktikaf di sana menjadi kegiatan rutin yang mulai kami lakukan setaun yang lalu.
Ya, genap setaun yang lalu sejak saya terkagum-kagum di masjid tersebut, dengan ribuan muslim sejati yang keasyikan mengejar derajat taqwa tertinggi. Indahnya, saat melihat dalam larutnya malam seorang pria bermotor tiba diboncengi istrinya bersama seorang anak kecil yang sengaja ia ajak untuk mulai mengenal Tuhan. Tampak kedinginan mereka, namun tak menyurutkan semangat mereka dalam beriktikaf. Indahnya saat ribuan orang ini bersantap shaur bersama menjelang tiba waktu shubuh, dengan penjual makan shaur aneka pilihan yang tersedia. Indah suasananya, saat sebagian orang tertidur, sebagian lain asyik tilawah berjuz-juz. Indahnya melihat anak-anak kecil yang terbiasa solat dengan tumaninah karena didikan orang tua mereka.
Subhanalloh,
Dan saat solat malam hendak dimulai, semua saling membangunkan tak peduli kenal atau tidak, yang jelas semuanya menyadari bahwa ikatan muslim secara tidak langsung telah mempersaudarakan mereka.
Diimami Al-Ustadz Abdul Aziz Al-Hafidz, sebagian jamaah larut dalam kekhusyuan qiyamul lail 3 juz dalam 12 rokaat,
Namun sebagian lain mungkin didera kantuk yang amat sangat, namun tetap menjalankannya, mencoba tuk belajar khusyuk.
Pun saya. Paksakan terus walau pikiran buyar atau bahkan tidur sambil berdiri. Hehe.
Hingga akhirnya terjaga dan terbawa larut dalam keheningan suasana ayat-ayat terakhir Al-Baqoroh. Entah kenapa suara ustadz Al-hafidz terasa begitu menggetarkan hati. Memang indah bila kita menghadapi ayat yang kita menggerti maknanya.
“…Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
Terhanyut. Bergetar. Takut dan berharap. Keheningan menjalar walau dalam padanya tangisan manusia bersahutan.
“…Ya Tuhan kami, jangan kau hukum kami jika kami lupa…”
Meleleh membasahi pipi. Dekat, amat dekat. Menjangkau zona bawah sadar.
“…Jangan Kau pikulkan kepadak ami apa yang tak sanggup kami memikulnya…”
Inikah rasa itu? Inikah iman? Atau hanya tersapu gelombang tangisan manusia sekitar?
“Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami…”
Semoga iman selalu masuk ke dalam diri kita hingga membuka hati kita dan menyahaya. Aamiin.
NB. Saya kembali membaca terjemahaannya di rumah sepulang dari sana. Tapi saya tidak merasakan getaran apa-apa.


ya, pengalaman spiritual emang perlu. tapi coba yor, rasakan saat maneh bener2 sendiri di rumah, dan saat itu pula maneh terbang ke seluruh kerajaan allah didalam diri maneh, maneh tau mulai dri segi2 sel darah merah maneh, mulai dri detakan jantung yang makin terasa, disertai zat allah yg mengalir didalamnya. seketika itu pula maneh akan merasa bahwa allah emang edan, hebat, dan tak terbayangkan dgn kata2.. dan disaat itu pula seluruh sendi dan sel tubuh maneh serasa dialiri kehidupan kembali…
hehe.. coba yor, kuncinya dzikir, solat yg “benar”, pernafasan. setelah itu, praktek rohman rohim di masyarakat
Comment oleh arses — September 30, 2008 @ 3:43 pm |
@ arses
yeup, permasalahannya, untuk orang selevel urang, urang belom bisa bertafakur sendiri sambil menitikkan air mta. At least, untuk tahap awal, lingkungan dijadikan stimulan cukup ceuk saya.
Oya, ada hal yang terpenting ga, penafsiran hakikat solat sedalam apapun tetep mesti dibungkus oleh syari’ah yang benar bukan sekadar teori-teori tanpa syari’ah yang diawali takbiratul ihrom dan salam.
Solat yu!
Comment oleh muhammadyorga — Oktober 16, 2008 @ 2:21 pm |
yaiyalah, syariat tuh menunjang hakikat.
dan urg pun selalu berusaha mempelajari dan mencobanya metode solat, diiringi aplikasi solat tersebut.
hhe. gausah ngajak2 yor, g penting dan g perlu ngajak solat ka urg mah. da urg mah insya allah ingin solat yang ikhlas, tanpa diketahui org dll nya. jadi kalem weh, seiring 2 hal tersebut berjalan, urang pun yakin urg bakalan manggihan duanana. soalna emg solat metode karasa pisan PENGARUHNYA pada badan, sehat pila pikir dan yang terpenting, metode itu membuat kita tergerak untuk aplikasi,,
Comment oleh arses — November 7, 2008 @ 6:32 am |
KARASA pisan solat nu bener teh yor (urg can nyebut urg bener sih, mungkin karek 1/4 na nu urg pelajari), tapi jauh lebih enak dibanding urg sok “sosolatan ” pas smp, jauh pisan ! nu ngarana allah arrahman arrahim teh bener nya, karasa..
Comment oleh arses — November 7, 2008 @ 6:34 am |