Catatan Acak Muhammad Yorga

Oktober 5, 2008

Mudik: Meninggalkan Idealisme

Diarsipkan di bawah: Curhat yang Tak Perlu dibaca — muhammadyorga @ 11:55 am

Ehm,

Bandung, I’m comming (dengan melebarkan kedua tangan seperti gaya Rose dalam film titanic: “I’m the King of the world!”)
Akhirnya kembali lagi, setelah satu minggu saya meninggalkan idealisme-idealisme di rumah, atau, tertinggal tepatnya.

Yep,
Kembali kepada keluarga. mudik. bertemu sepupu-sepupu kecil dan paman-bibi yang mengenal karakter saya sejak kecil ternyata dapat sedikit-banyak memengaruhi saya
Saya tidak lagi menjadi pemikir. Bahkan kedewasaan saya mungkin hilang saat bersama mereka.

Makanya, saya mengistilahkannya “meninggalkan idealisme”

Persis seperti yang seorang kakak alumni SMA 3 -kang Iwa- katakan, kondisi kita amat berbeda saat di sekolah dengan di rumah. Di rumah terkadang ide-ide brilian dan sifat idealis kita tenggelam oleh lingkungan yang membuat diri kita seolah “selalu kecil”.
Comfortable zone.
Nah, apalagi ini di keluarga besar, istilahnya mah jadi “kabawa” suasana.

Haha

5 hari lamanya saya berada di kampung babeh. Yang jelas sifat melankolis saya menganggap 5 hari itu sangat tidak produktif bagi kehidupan saya. Saya bingung dengan kegiatan orang desa mengisi waktu luang: tidak ada kegiatan!
Namun sifat sanguinis saya selalu mengambil hikmah dalam setiap hal.

Namun ada satu kegiatan yang menarik pada malam setelah lebaran: Maen Bedil Lodong!
Haha

Anda tau? Ya, lodong adalah bentuk petasan versi orang desa. Lebih kreatif sih memang. Natural.
Ini contohnya kehilangan idealisme. Di bulan Romadhon secara frontal saya bilang anti dengan petasan dan sejenisnya, sama saja membakar uang, kata saya waktu itu.
Makanya dalam setiap even buka bareng yang diakhiri oleh main petasan saya sering meninggalkannya.

Back to lodong, jadi serunya, bedil lodong berbunyi layaknya meriam saat kita bakar ’sumbunya’.
‘Buuummm!’. Main bedil lodong ini menjadi tradisi di desa-desa priangan saat lebaran.

Malam itu sawah kering itu amat ramai. RT 05 di sudut atas sawah melawan RT 02 di bawah, dengan dibatasi oleh dataran sawah kering yang luas membentang.
Lodong telah berjejer di kedua kubu. Oya, kalau Anda belum tau, lodong itu bahasa sunda, artinya batang pohon tebu.
Selain lodong, ada juga yang menggunakan cubluk. Cubluk terbuat dari tanah kerukan yang tengahnya bolong.

Kemudian dari kedua kubu bersahut-sahutan suara meriam. Tidak ada wasit. Hanya ada gengsi, siapa yang bunyi lodongnya lebih keras, dirinya sendiri memutuskan bahwa dia menang.
Semalam suntuk bunyi lodong menggaung ke penjuru desa, orang-orang begadang terbawa riuhnya suasana.

Jadi cubluk atau lodong bentuknya sama sama seperti pipa besar, dengan lubang besar di belakangnya dan lubang kecil di atasnya. Mekanismenya:

  1. Karbit 1 ons dimasukkan ke dalam air panas dalam wadah seperti gayung bergagang panjang
  2. Gayung dimasukkan ke dalam pipa cubluk atau lodong
  3. Semua lubang ditutup oleh kain atau karung
  4. Karbit dalam lodong menguap dalam ruang tertutup, sehingga menimbulkan gas panas yang siap explode
  5. Lubang kecil di atas pipa di buka, gas keluar dari pipa
  6. Bakar pakai obor
  7. Duarrr

Yah, begitulah. Dan untuk membiayai pembelian 1 kuintal karbit dan makan malam, setiap keluarga di RT 05 rela menyumbang seratus ribu!

Ckckck.

Dasar orang desa.

No Comments Yet »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.