Haha, ingatkah dengan kata-kata tersebut? Ikal menggagas agar dunia pendidikan Indonesia menjadikannya salah satu mata pelajaran di sekolah.
Tapi ini bukan tulisan mengenai pemaparan panjang judul di atas. Saya hanya tertarik dengan kehebatan Andrea Hirata membalut nilai-nilai filosofis yang ingin disampaikannya oleh komedi renyah sehingga terkesan menjadi sebuah ironi.
Perbedaan kontras yang tampak antara mahasiswa-mahasiswa asal Belitong yang kuliah di Jawa dengan Capo, pedagang etnis Tiong Hoa di kampungnya Ikal.
Mahasiswa-mahasiswa intelek itu sibuk memberikan penyuluhan kepada kuli-kuli Belitong dengan bahasa sok intelek.
“Bapak-bapak, kita harus belajar mengomersialkan intelectual comodity! Artinya kita harus bersaing dengan daerah lain dengan mulai menjual keahlian dan berbagai jasa. Kapasitas intelektual kita harus kita tingkatkan secara signifikan. Kita tidak boleh hanya bergantung pada laut, tambang, dan tani yang resourcesnya terbatas. Dengan begitu pembangunan desa ini dapat berkembang secara simultan dan sustainabel di semua bidang!”
Tepuk tangan riuh sekali. Setelah pidato yang gilang-gemilang itu lalu tak ada seorangpun yang melakukan apa pun. Sang mahasiswa sibuk mencari kata-kata aneh baru untuk pidato berikutnya dan para kuli tambang menghabiskan waktu berminggu-minggu mendebatkan arti setiap kata aneh itu di warung-warung kopi.
Berbeda dengan Capo, tak seperti mahasiswa Melayu yang sok pintar, ia berbicara dengan pilihan kata sederhana, gampang dicerna, tajam dan memukul sasaran. Setiap ia angkat bicara para pedagang ikan di stanplat melepaskan apapun yang sedang ia kerjakan.
“Orang Kek bekerja keras, tak mau bergantung pada apapun…”
“Tidakkah kalian lihat Belitong? Terserak seribu danau bekas galian tambang, terhampar padang sabana beribu-ribu hektare, tak bertuan. Kuda, peternakan kuda adalah yang paling pas. Hewan itu memerlukan kebebasan ditempat yang luas. Aku akan beternak kuda!!”
Dan Capo memang beternak kuda.
Haha, sekarang pikirkan, apakah saya dan Anda termasuk seperti mahasiswa-mahasiswa Melayu melayu yang banyak cingcong, banyak berargumen dengan bahasa elite, memaparkan sejuata ide namun tak merealisasikannya dalam sebuah tindakan?
Saya khawatir, iya.


It’s about the target audience. Berbicara bisa menjadi tindakan, apabila kita melakukan orasi dengan cara yang benar untuk mencapai sebuah target.
The mindsets of different levels of society are not equal.
Komentar oleh Andhika Nugraha — Oktober 12, 2008 @ 6:00 am |