Tak dapat dipungkiri bahwa penyakit “Tidak bisa membagi waktu” memang sebuah penyakit klasik bagi seorang aktivis kesiswaan. Entah itu hanya sebuah dalih bagi kemalasannya atau memang kepadatan aktivitasnya.
Dampaknya cukup terasa bagi kegiatan belajar mengajar di kelas khususnya. Tidak fokus belajar di kelas dan tidak sempat belajar di rumah, berimbas kepada menurunnya nilai dan prestasi dan berefek domino kepada marahnya orangtua sampai-sampai melarang anaknya aktif lagi berorganisasi.
Manajemen Waktu
Untuk konsep manajemen waktu secara teoritis saya menyarankan untuk membaca buku Seven Habits-nya Sean Covey. Pada kebiasaan nomor 3, Dahulukan yang Utama, Sean memaparkan mengenai 4 tipe orang yang diklasifikasikan dalam 4 kuadran waktu: Orang yang Pemalas, Orang yang Suka Menunda-nunda, Orang yang “Yes Man”, dan Orang yang Menentukan Prioritas. Saya yakin aktifis kesiswaan sudah pernah mendapat materi ini, hanya menurut saya buku Seven Habits tetap mesti jadi pegangan.
Saya hanya ingin menceritakan sebuah pengalaman. Setiap sore sehabis kegiatan harian OSIS, kami, pengurus OSIS, sering berkongkow-ria di kantin atau di ruang OSIS. Bagus memang. Metode kumpul-kumpul, ngobrol apa saja yang penting kumpul, merupakan metode yang amat ampuh untuk meningkatkan ukhuwah(kebersamaan) dalam organisasi.
Namun yang disayangkan, waktu banyak yang ‘terbuang’ tersebut sering disembunyikan dalam argumen saat berhadapan dengan orang tua saat kita pulang larut malam. Dalih yang keluar tentu saja aktivitas kesiswaan. Akibatnya, hilanglah kepercayaan orang tua: “Rapat mulu, Ekskul mulu, kapan belajarnya?”.
Saran sederhana saya, Jangan Mengambinghitamkan kegiatan kesiswaan! Dan lagi, jika kumpul-kumpul bersama anak-anak seprofesi dirasa sudah melebihi batas, jangan ragu meninggalkannya.
Segalanya berawal dari pemikiran. Saat saya sedang meghabiskan waktu di suatu tempat, saya selalu berpikir apakah waktu yang saya habiskan saat itu, di tempat itu, berharga buat saya. Apakah yang sedang saya lakukan relevan dengan prinsip atau tujuan hidup saya. Apa kegiatan lain yang lebih berharga yang dapat saya lakukan jika saya meninggalkan tempat itu. Jika yang saya lakukan adalah sebuah kegiatan refreshing (denger musik, nonton, atau main bola), saya tetapkan berapa waktu yang tepat yang harus saya habiskan agar tujuan refreshing tersebut tercapai.
Sederhana kan? Ingat saja bahwa waktu ibarat pedang, yang siap menebas kita saat kita sembarangan menggunakannnya. Dan Albus Dumbledore mengatakan, kita akan merasa sesuatu amat berharga saat ia sudah tidak lagi kita miliki. Mungkin suatu saat kita amat menyesal dengan membuang waktu kita yang berharga.
Manajemen Konsentrasi
Kalau Anda merasa manajemen waktu Anda sudah baik namun tetap sering merasa kelelahan berlebihan atau Anda bisa meluangkan waktu untuk belajar di rumah namun tidak berpengaruh terhadap pemahaman diri, berarti Anda bermasalah dengan manajemen konsentrasi.
Pun saya. Bermula saat pertemuan dengan seorang alumni yang menceritakan pengalaman organisasinya, saya belajar mengenai ini.
Ilustrasi:
Anda adalah seorang ketua panitia sebuah even yang akan dilaksanakan sepulang sekolah. Paginya di dalam kelas yang Anda pikirkan hanya even itu, belajar pun tidak dapat feel nya. Sehabis even, di rumah Anda mencoba mengerjakan pekerjaan rumah, namun Anda masih memikirkan even tadi yang dibilang gagal, hingga akhirnya pr tidak terselesaikan. Besok paginya, saat pelajaran pertama Anda sibuk memikirkan ulangan pada jam terakhir. Begitulah seterusnya.
Manajemen Konsentrasi adalah tahapan lanjutan, khususnya bagi orang-orang yang merasa kelelahan karena mempunyai waktu sedikit dan kegiatan padat.
Permasalahannya, saat kita sedang mengerjakan sesuatu kita sukar mengalihkan pikiran kita dari pekerjaan berikutnya yang dirasa lebih penting. Itulah yang membuat kita lelah. Pikiran kita dipacu untuk bekerja lebih, sehingga membagi dua fokus kita. Yang sedang kita lakukan berbeda dengan yang sedang kita pikirkan.
Kelelahan pikiran jauh lebih menguras tenaga dibandingkan kelelahan fisik.
Makna ayat 7 suroh Al-Insyiroh bukan hanya mengenai manajemen waktu: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan suatu urusan, kerjakanlah urusan lainnya”, tapi juga mengenai manajemen konsentrasi. Tuhan seolah berujar agar kita fokus pada suatu urusan hingga urusan itu selesai. Walaupun nanti siang akan ada even dimana kita ketuanya, tetaplah fokus pada ulangan matematika saat ini.
Inilah trik seorang aktivis kesiswaan yang berotak cemerlang. Dirinya berkonsentrasi penuh dalam 45 menit pelajaran fisika dan berkonsentrasi penuh terhadap rapat yang sedang dipimpinnya.
Waktu yang dihabiskan dua orang yang berbeda bisa saja sama, namun apa yang didapatkan pasti berbeda. Dengan kekuatan konsentrasinya seseorang bisa memahami materi integral dalam waktu 1 bulan, tapi boleh jadi seseorang lainnya hanya membutuhkan waktu 1 jam.
Itulah kekuatan manajemen konsentrasi.
Mulailah fokus terhadap satu hal yang sedang kita geluti pada satu waktu. Singkirkan pikiran terhadap masalah lainnya yang hanya akan menguras tenaga dan mengalihkan perhatian kita.
Saya tidak punya trik jitunya, Cuma sebuah simulasi konsentrasi yang bisa saja membantu Anda atau tidak.


yorga.
smoga maneh istiqamah masalah pembelajaran bagi kesiswaan ini dan bukan karena maneh merasa gagal ato bahkan berhasil dalam melakukannya tahun kemarin. ingat men kata aing, awal itu terkadang menjadi siluet yang mengugah, tapi tak sehebat keistiqamahan dari hal yang maneh kerjakan itu walaupun sebesar zarrah.
hhaha. good job!
Komentar oleh chridho — Oktober 12, 2008 @ 7:52 am |
yeah, manajemen konsentrasi memang penting sekali. saya melihat teman-teman di sekolah kurang bagus dalam hal ini: di suatu jam pelajaran belajar pelajaran lain yang akan ulangan setelahnya, atau mengerjakan tugas yang belum selesai, dengan beranggapan “ah, nanti juga bisa minjem catatan”. akibatnya materi yang harus dikejar malah menumpuk tinggi seperti masalah subprime mortgage di amerika (naondeui), dan siklus yang sama berulang lagi. intinya sih manfaatkan waktu secara proporsional sesuai dengan kejaran saat itu.
Komentar oleh ryansight — Oktober 15, 2008 @ 10:13 am |