Catatan Acak Muhammad Yorga

Oktober 16, 2008

Menjawab Tantangan Bangsa dengan Syari’ah Islam (Bag I)

Diarsipkan di bawah: Ilmu dalam Artikel — muhammadyorga @ 3:11 pm

Cukup enek saat menonton debat partai di TV One hari ini, antara Partai Bulan Bintang dan Partai Damai Sejahtera (lagi-lagi) mengenai penerapan syari’at Islam di negeri ini.

Bosan saya. Debat kusir yang terjadi tidak akan mengubah persepsi siapa-siapa. Mengenai kemajemukanlah, toleransi lah, Pancasila lah, semuanya tidak dapat menjadi satu konklusi mufakat.

Yang ingin saya sampaikan di sini adalah, seperti kata Anis Matta dalam Dari Gerakan ke Negara, bahwa yang mesti dihadapi oleh partai-partai islam adalah tantangan-tantangan praktis, bukan verbal!

Tidak akan ada habisnya jika kita membela habis-habisan hukum Qishos (darah dibayar darah) membuat orang jera, hukum jual-beli non-ribawi menguntungkan semua pihak, teori kesejahteraan rakyat lewat zakat sangat ideal, karena pihak-pihak kontra pastinya akan punya argumen yang tiada habisnya juga.

Menarik saat saluran saya pindahkan ke Metro TV, di sana ada dialog dengan A. Riawan Amin, Dirut Bank Muamalah Indonesia. Ia memaparkan mengenai krisis keuangan sebagai dampak dari krisis di US dan tidak perlu mengatakan secara tersurat bahwa Bank Muamalah menjawab tantangan tersebut.

Karena apa? Melalui pemaparannya yang sederhana ia hanya menyampaikan secara jujur, bahwa bank-bank yang merupakan perpanjangan tangan dari bank asing otomatis akan mengalami krisis, dan bank Muamalah tidak.

Makanya, katanya, sudah saatnya pemain-pemain saham meninggalkan usaha lama dan bergabung ke sistem baru.

Ini adalah jawaban yang disusun berdasarkan fakta yang kontekstual. Bukan mencari ilustrasi dari zaman Rosululloh yang saya yakin tidak akan diterima oleh masyarakat plural.

Begitu pula kata menthorku, saat krisis 1998 terjadi, semua bank mengalami kesulitan pengembalian uang ke nasabah. Adalah BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) bagi para pemilik bank swasta di Indonesia. Dan fakta menunjukkan, hanya ada satu Bank yang tidak memerlukan bantuan tersebut: Bank Mu’amalah.

So, the point is, tantangan bangsa ini cukup kita jawab dengan sebuah cara islami yang praktis, bukan teori, sehingga dengan sendirinya orang akan menyadari bahwa islam adalah rohmatan lil ‘alamin.

Oya,

Islam bukan agama, ia adalah sistem hidup yang mengatur baik hubungan vertikal maupun horizontal.

6 Tanggapan »

  1. Emang acara debatnya TVOne itu lbh ngutamain debat rame2, yg kliatannya seru, padahal tidak mengubah apa2.

    Saya tertarik dengan tulisan kang yorga soal bank muamalah. Dikatakan disitu, kalau islam bisa menjawab setiap tantangan dunia, bila dipakai sebagai prinsip (ini rangkuman saya). Saya percaya itu, tapi dimana kita harus mulai? Al-Quran terlalu tinggi bahasanya, dan Hadis takut tidak shahih. Dimana bisa mendapat pelajaran tentang praktek Islam?

    Mungkin lebih mirip pertanyaan daripada komentar (sori kang…) tapi ini bikin saya penasaran. Klo bisa tolong dijawab ke thepradipto@yahoo.co.id
    ato kalau punya facebook, add dong!

    -note: saya sma3 2011, X-7, tapi sudah pindah karena alasan tertentu.
    saya bangga karena ternyata DKM3 punya seseorang yang berpandangan luas.
    thx kang yorga! -Dito-

    Comment oleh Hadian Dito — Oktober 16, 2008 @ 5:54 pm | Balas

  2. yap, perekonomian syariah emang gak terpengaruh oleh krisis ekonomi macam sekarang.

    tapi menetapkan hukum syariah lainnya di negara seperti Indonesia… saya pribadi nggak setuju, mungkin karena pikiran saya ‘terlalu’ liberal. tapi saya juga ga tau banyak tentang syariah sih, cuma premis bahwa sebuah sistem hukum didasarkan pada ajaran satu agama atau komunitas tertentu, dalam negara yang secara definitif majemuk seperti Indonesia, ya saya gak setuju aja.

    dan masyarakat masih jauh dari siap, tentunya.

    Comment oleh Andhika Nugraha — Oktober 17, 2008 @ 2:43 pm | Balas

  3. @ Tubagus
    Pun itu yang dikatakan temen2 dari PDS, dikatakan Soekarno, bahkan oleh ‘cendekiawan’ muslim sendiri seperti Nurcholis Majid maupun Gusdur.

    Dan jawaban yang diberikan oleh PBB (ini nih yang salahnya) mereka menjawab dari perspektif islam, syari’ah islam dapat memlindungi pluralitas blablabla dan syalala…

    Saya juga ga bisa jawab. Tapi sederhananya, sekali lagi, kita cuma menyerap nilai-nilai yang sesuai dan bisa menjawab tantangan. Parsial pun ga masalah. Jangan memandang “syari’ah islam” sebagai perombakan ideologi dan tatanan negara secara habis-habisan.

    Syari’ah di sini adalah cara-cara islam menghadapi masalah horizontal. Islam kan mengatiur sistem kemasyarakatan juga.

    Makanya liat aja praktisnya. kalo ternyata cuco kan masyarakat juga nerima.

    Comment oleh muhammadyorga — Oktober 18, 2008 @ 2:22 pm | Balas

  4. blogwalking . . :D

    Comment oleh rekoo — Oktober 18, 2008 @ 10:29 pm | Balas

  5. PBB memang sejauh ini paling konsisten perjuangkan Syariat Islam, Maju terus PBB jangan jadi partai memble yang bermental tempe

    Comment oleh Rif — Desember 20, 2008 @ 4:36 am | Balas

  6. tentu saja.. islam kan “yang menyelamatkan” hhe…

    Comment oleh arses — Desember 22, 2008 @ 2:59 pm | Balas


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah tanggapan

Blog pada WordPress.com.