Masa yang akan datang, kewajibanmulah.
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa.
Sumpah Pemuda!!
Delapan puluh tahun berlalu sejak puluhan pemuda dari penjuru nusantara berikrar untuk negerinya. Mereka sadar, bahwa merekalah para pewaris negeri yang harus merebut tanah air dari tangan penjajah. Dan hari itu, pada tanggal 28 Oktober 1828, lagu Indonesia Raya menjadi saksi atas kebangkitan para pemudanya, dengan hasil 17 tahun kemudian Sang Negeri pun merdeka.
Andai saja mereka hidup sekarang, andai saja Soekarno atau Syahrir hidup sekarang, mungkin mereka bersedih. Pilu meratapi ranah pertiwi ini. Sakit hati mereka, melihat para generasi baru pewaris negeri, para calon pemegang estafet kepemimpinan negeri, sedang tertawa ria seolah tiada beban untuknya di hari esok. Sementara itu, di sekeliling mereka, negeri mereka sendiri diambang kepunahan.
Kepunahan?
Bisa jadi iya. Karena apa jadinya masa depan sebuah bangsa yang akan dipegang oleh orang-orang yang tidak peduli dengan naiknya harga-harga kebutuhan yang mencekik leher orang tua mereka sendiri? Seolah urusan dapur dan rumah tangga hanya milik ibu dan urusan nafkah hanya milik ayah. Apa yang akan terjadi dengan negeri ini 20 tahun lagi jika hingga saat ini calon pemegang kekuasaan negeri selanjutnya tenang-tenang saja saat budaya dan pulau sendiri dirampas oleh negara lain?
Apatis.
Tenang saja bung. Pakar-pakar politik dan ahli ekonomi kita kan sedang mengurusnya. Yang perlu dilakukan hanya menunggu. Percaya saja, Bapak-bapak kita kan hebat. Nanti juga masalah ini bakal tuntas.
Tapi tak selamanya Pak SBY menjadi presiden dan Ibu Sri Mulyani menjadi menteri keuangan. Dan pemegang tahta negeri selanjutnya adalah pemuda! Orang-orang yang kini sedang asyik ber-chating ria, sedang bingung besok mau nonton apa, dan sedang siap-siap ‘nembak’ kecengannya di sekolah. Urusan lain tidak peduli!
Sumpah pemuda!
Sebuah momentum bagimu, bagi kita, bagi para pemuda, untuk bangkit dari ketidakpedulian, bermetamosfosa menjadi pemuda yang sadar akan tugasnya, yang peka dengan keadaan sekitar, dan mau berfikir hendak ia bawa kemana bangsanya.
Karena spanduk bertuliskan “80 tahun Peringatan Sumpah Pemuda” di jalan-jalan hanya sekadar spanduk belaka. Karena Sumpah Pemuda bukan sekadar tuk diperingati dan dikenang. Tapi kewajiban kita adalah meneladani spirit dari perjuangan dan kebangkitan mereka, para pelaku Sumpah Pemuda.
Bangun Pemuda! Tong cicing wae atuh!


ini sih sudut pandang gw aja ya. bayangin jaman 80 tahun lalu, waktu sekolah kita masih HBS namanya, cuma orang eropa, orang indo, dan segelintir anak bangsawan pribumi yang boleh sekolah di sana. founding fathers kita tentu memimpikan kebebasan akses pendidikan bagi anak-anak negeri, agar bisa menuntut ilmu dengan mudah, tanpa ada beban, ya pendeknya seperti yang dirasakan (kebanyakan dari) kita saat ini. memang ini loh yang dicita-citakan oleh kemerdekaan itu.
tapi yang diimpikan founding fathers itu Indonesia bukan sekadar merdeka, tapi jadi bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain, yang bisa mengangkat wajah di depan dunia internasional. this brings us back to your point, sudah seperti itu belum? belum kan? iya kan? iya deh. makanya jadi anak muda teh visioner dikit atuh, barudak! bukannya gimana entar, tapi ntar gimana??
btw, gw baru chatting sm kecengan, bingung nih besok mau nonton apa… (becanda sob, nurunin flow hehehe)
Komentar oleh ryansight — November 1, 2008 @ 11:23 am |