Salut untuk SBY yang menganugerahkan gelar pahlawan kepada tiga orang di atas bertepatan dengan Hari Pahlawan kemarin. Meski sebagian orang bilang ini hal yang terlambat, meski sebagian lain berkata kepahlawanan bukanlah gelar yang diberikan oleh pemerintah (saya setuju ko), saya rasa Indonesia harus tahu dan mengakui, dan satu-satunya cara untuk itu adalah dengan propaganda pers besar-besaran. Jadi tentu saja penganugerahan ini amat besar manfaatnya.
Dari ketiga nama itu, Bung Tomo mungkin memang yang paling dikenal. Teringat dibenak saya saat guru sejarah SMP 2 waktu itu dengan berapi-api menceritakan kiprah beliau dalam tragedi berdarah yang menewaskan lebih dari 16.000 orang di Surabaya. Masih ingatkah Anda? 100.000 pasukan sekutu pimpinan AWS Malaby dibuat kerepotan oleh Bung Tomo cs.
Bung Tomo, seorang orator ulung yang membakar semangat arek-arek Suroboyo, sungguh ironis dan tragis dilupakan oleh rezim orde baru karena dianggap tukang kritik dan terlalu radikal.
Pun Natsir, yang mayoritas orang hanya tahu akan kiprahnya sebaga perdana menteri yang gagal di zaman demokrasi liberal, walau begitu sangat dipuja-puja di kalangan aktivis dakwah.
Natsir, satu-satunya Indonesian yang masuk dalam biografi 71 tokoh islam abad 20 karya Abdullah Al-Aqeel. Meski pendapatnya mengenai dasar negara sering berbenturan dengan Soekarno, toh mereka tetap bahu membahu dalam memperjuangkan kedaulatan kembali NKRI pascakekalahan dalam KMB 1949.
Natsir dilabeli pemberontak setelah bergabung bersama Syafrudin (tahun lalu diberi gelar pahlawan juga oleh SBY) dalam PRRI yang sebenarnya lahir akibat penyimpangan-penyimpangan pemerintah pusat.
Natsir adalah sosok perdana menteri yang sederhana,
Saat pertama kali berjumpa dengannya di tahun 1948, pada waktu itu ia Menteri Penerangan RI, saya menjumpai sosok orang yang berpakaian paling camping (mended) di antara semua pejabat di Yogyakarta; itulah satu-satunya pakaian yang dimilikinya, dan beberapa minggu kemudian staf yang bekerja di kantornya berpatungan membelikannya sehelai baju yang lebih pantas, mereka katakan pada saya, bahwa pemimpin mereka itu akan kelihatan seperti ‘menteri betulan’
[George McT Kahin, Guru Besar Cornell University]
Sekarang, atau mungkin beberapa waktu mendatang, saya harap nama Natsir atau Bung Tomo dapat terekam dalam memori anak-anak pewaris negeri sebagaimana nama Diponegoro, Soedirman, atau Bung Karno.
Allohummaghfirlahum…

